Analisis Puisi-Untuk D Karya Wiji Thukul

Untuk D


Kopi tinggal ampas

Asbak penuh puntung rokok

Bibir pecah habis muntah-muntah

.

Mari pulang saja

Sebelum tipu-menipu tambah seru

Malam makin beku

Aku tidak betah, aku ingin masuk

Aku tak terhibur lagi

Oleh percakapan-percakapan

Yang menyelamatkan kita bukan omong besar

Bukan mimpi bukan ketakutan

.

Mari tidur!

Persiapkan

Perlawanan, esok pagi

Solo, 17 Juni 1987


Analisis

Kopi tinggal ampas

Asbak penuh puntung rokok

Bibir pecah habis muntah-muntah

Bait ini mencitrakan kondisi pada kala itu yang dipenuhi kesengsaraan dan kemelaratan. Citra ini paling tampak dari larik terakhir.

Mari pulang saja!

Penulis mengajak semua orang saat itu untuk rehat dari pergelutan seharian, meredam penat.

Sebelum tipu menipu tambah seru

Malam makin beku

Tipu menipu, dengan rakyat sebagai korban dan terus dibodohi. Tipu menipu di sini hanyalah sebagai perlambang atas segala tindak kriminal yang lebih luas lagi. Malam semakin larut, menambah kelelahan dan beban tiap orang yang masih terjaga.

Aku tidak betah, aku ingin masuk

Aku tak terhibur lagi

Oleh percakapan-percakapan

Penulis telah begitu penat dan bosan mendengar keluhan-kesah yang terus menerus, ia hanya ingin mengasing sejenak.

Yang menyelamatkan kita bukan omong besar

Bukan mimpi bukan ketakutan

Yang dapat mengentas semuanya dari kondisi tersebut bukanlah silat lidah para penguasa, maupun orasi-orasi tentang pembebasan tanpa ada tindakan. Apalagi hanya berangan-angan dan rasa takut yang semakin membawa keterpurukan.

Mari tidur!

Persiapkan

Perlawanan, esok pagi

Sekali lagi, penulis mengatakan: “isrirahatlah dulu kawan”. Masih ada aksi yang harus kita ambil di hari berikutnya. Kata “mari tidur” juga dapat diartikan bahwa kita harus melepaskan segala rasa takut, rasa gelisah, serta segala beban mental yang masih ada untuk memersiapkan perlawanan yang membutuhkan kebulatan tekad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *